(Seorang Sufi Wanita)
|
T |
Pada
malam Robi’ah dilahirkan ke dunia, tidak ada sesuatu barang yang berharga yang
dapat ditemukan di rumah orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang sangat
miskin, bahkan tidak ada minyak setetespun untuk memoles pusar putrinya. Tidak
ada lampu penerangan dan tidak ada kain untuk selimut putrinya. Oleh ayahnya
diberi nama Robi’ah karena ia adalah putri keempat dari empat bersaudara yang
kesemuanya putri.
“Pergilah kerumah tetangga kita si Fulan dan mintalah sedikit minyak
untuk menyalakan lampu agar malam hari ini terlihat terang” Kata si Ibu menyuruh
suaminya. Namun sang ayah telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta sesuatu
apapun dari tetangga atau yang lainnya. Demi menyenangkan hati isterinya, maka
pergilah ia ke rumah tetangganya berpura-pura untuk meminta kepada tetangganya.
Kemudian pulanglah sang ayah dan berkata “Mereka tidak mau membukakan pintu”.
Mendengar hal itu sedihlah hati isterinya, kemudian menangis.
Dalam keadaan yang memprihatinkan ini, sang ayah hanya
dapat menundukkan kepala sampai akhirnya tertidur dengan kepala di atas lutut.
Dalam tidurnya, sang ayah bermimpi bertemu dengan Rosululloh Shollallohu
'alaihi Wasallam dan dihibur, “Janganlah engkau bersedih, karena bayi
perempuan yang baru dilahirkan itu adalah Ratu kaum wanita dan akan menjadi
penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”. Kemudian Rosululloh Shollallohu
'alaihi Wasallam meneruskan “Besok,
Pergilah engkau menghadap Isa Az-Zadan, Gubernur Basrah, tulislah di atas
kertas kata-kata berkut ini : “Setiap malam engkau mengirimkan sholawat seratus
kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at 400 kali, kemarin adalah hari kamis
malam Jum’at dan engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu,
berikanlah kepada orang ini 400 Dinar yang telah engkau peroleh dengan cara
yang halal”.
Ketika terbangun, sang ayah mencucurkan
air mata. Kemudian ia menulis surat sesuai pesan Rosululloh Shollallohu
'alaihi Wasallam dan mengirimkan kepada Gubernur Basrah melalui Pengurus
Rumah Tangga Istana.
Setelah membaca surat
yang diberikan sang ayah, kemudian Gubernur memerintahkan kepada bawahannya
“Ambil 2.000 Dinar dan bagikan kepada orang-orang miskin, dan sebagai tanda
syukur kepada Rosululloh Shollallohu 'alaihi Wasallam, yang telah
memperingatkanku, berikanlah kepada Ayah Robi’ah 400 Dinar”. Kemudian lanjutnya
“Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu, namun
tidak pantas bagi orang seperti engkau untuk datang kepadaku, lebih baik seandainya
akulah yang datang
dan mengetuk pintu rumahmu dengan jenggotku ini. Walaupun
demikian, demi Alloh, aku memohon kepadamu, apapun yang kamu butuhkankan,
katakanlah padaku”.
Selesai menerima uang pemberian
Gubernur tersebut, pulanglah sang ayah, dan membeli berbagai keperluan.
Ketika beranjak besar, Ayah dan
Ibunya meninggal dunia. Di Kota Basrah dilanda bencana kelaparan dan ia
terpisah dari kakak-kakak perempuannya.
Suatu hari ketika sedang keluar
rumah, ia terlihat oleh seorang penjahat yang segera menangkap dan menjualnya
seharga (6) enam Dirham untuk dijadikan budak. Sebagai budak belian, tentu saja
ia disuruh untuk mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.
Pada suatu hari ketika sedang
berjalan-jalan, datanglah seseorang yang tak dikenalnya menghampiri. Ia takut
kemudian lari, tiba-tiba ia jatuh tergelincir sehingga tangannya terkilir. Ia
menangis sambil mengantuk-antukkan kepalanya ke tanah, kemudian berkata “Yaa
Alloh, aku adalah orang asing di sini, tidak mempunyai ayah bunda, sebagai
tawanan yang tidak berdaya, sedangkan tanganku cidera, namun, itu semua tidak
membuatku bersedih hati karenanya. Satu-satunya yang aku harapkan adalah supaya
aku dapat memenuhi kehendak-Mu dan mengetahui apakah Engkau berkenan atau
tidak”
“Robi’ah, janganlah engkau berduka”
terdengar suara berkata kepadanya, “Kelak kemudian hari engkau akan dimulyakan,
sehingga Malaikat iri kepadamu”. Kemudian Robi’ah kembali ke rumah majikannya
Di siang hari ia berpuasa dan mengabdikan kepada Alloh,
sedangkan pada malam harinya ia berdo’a sambil berdiri sepanjang malam.
Pada suatu malam, majikannya
terbangun dari tidurnya dan ketika berjalan melewati jendela, terlihat olehnya
Robi’ah sedang bersujud sambil berdo’a kepada Alloh Subhanahu wata 'ala
“
“Yaa Alloh, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku hanyalah untuk
dapat mematuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Jika aku dapat merubah nasib
diriku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat barang sebentarpun dari
mengabdi kepada-Mu. Namun engkau telah menyerahkan diriku di bawah kekuasaan
seorang hamba-Mu”.
Sepasang mata majikannya terbelalak
lebar, bukan karena hanya mendengar do’a Robiah, tetapi karena ia melihat suatu
keajaiban, sebuah lentera/lampu tanpa rantai tergantung di atas kepala Robi’ah
yang menerangi seluruh rumah. Menyaksikan hal tersebut si Majikan merasa takut,
kemudian langsung pergi ke kamar tidurnya dan duduk termenung hingga fajar tiba.
Keesokan harinya, si Majikan memanggil Robi’ah dengan sikap lemah lembut,
kemudian ia membebaskannya.
“Ijinkanlah aku pergi.” Kata
Robi’ah kepada Majikannya. Setelah diberi ijin oleh Majikannya, kemudian ia
pergi. Ia berjalan melewati padang pasir, menempuh perjalanan jauh menuju
tempat sepi untuk berkhalawat, mengabdikan diri kepada Alloh wa Rosulihi Shollallohu
'alaihi Wasallam, dan dengan tekun melaksanakan ibadah.
Beberapa lama kemudian, ia berniat
untuk menunaikan ibadah haji. Setelah mempersiapkan perbekalan secukupnya,
berangkatlah ia bersama rombongan untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah
perjalanan, keledai yang dipergunakan untuk mengangkut barangnya mati, padahal
pada saat itu berada ditengah-tengah padang pasir.
“Biarlah aku yang membawakan barang-barangmu”
kata seorang laki-laki dalam rombongan itu menawarkan jasa. “Tidak, teruskanlah
perjalanan kalian, bukan tujuanku untuk menjadi beban kalian” jawab Robi’ah.
Kemudian rombongan itu melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Robi’ah seorang
diri.
“Yaa Alloh” Robi’ah berseru sambil menengadahkan kepala,
“Beginikah caranya raja-raja memperlakukan seorang wanita yang tidak berdaya di
tempat yang masih asing ini?” “Engkau telah memanggilku ke rumah-MU, tetapi di
tengah perjalanan, Engkau membunuh keledaiku dan meninggalkanku sebatangkara di
tengah-tengah padang pasir”. Sebelum Robi’ah meneruskan kata-katanya, tiba-tiba
keledai yang mati itu bergerak, kemudian berdiri. Robi’ah meletakkan
barang-barangnya kembali di atas punggung binatang itu dan melanjutkan
perjalanan.
Setelah beberapa hari menempuh
perjalanan di padang pasir, ia terasa letih sekali dan sebelum berhenti ia
berseru kepada Alloh “Yaa Alloh, tubuhku terasa letih, ke arah manakah yang
harus ku tuju ?. Aku ini hanyalah segumpal tanah, sedang rumah-Mu terbuat dari
batu. Yaa Alloh aku bermohon kepada-Mu, tunjukkanlah diri-Mu”.
Alloh berfirman dalam hati sanubari
Robi’ah, “Robi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan 18000 dunia.
Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah bermohon untuk melihat-Ku dan
gunung-gunung terpecah menjadi 40 keping. Karena itu, cukuplah engkau dengan
nama-Ku saja”.
Suatu ketika Robi’ah menderita sakit
yang gawat, kemudian ia ditanya apa penyebab sakit yang dideritanya itu. “Aku
telah menatap surga, dan Alloh telah menghukumku” jawab Robi’ah.
Ketika Hasan Basri datang mengunjungi
Robi’ah, ia melihat salah seorang Pemuka kota Basrah berdiri di depan pintu
pertapaan Robi’ah, ia hendak memberikan sekantong uang emas kepada Robi’ah dan
Pemuka itu menangis. Hasan Basri bertanya kepada Pemuka itu “Mengapa engkau
menangis ?”
“Aku menangis karena wanita suci
zaman ini” Jawab Pemuka itu. “Karena jika kehadirannya tidak ada lagi,
celakalah umat manusia. Aku membawakan uang emas sekedar untuk biaya
perawatannya, namun aku kawatir kalau-kalau Robi’ah menolaknya, bujuklah agar
ia mau menerima uang ini”.
Maka masuklah Hasan Basri ke dalam pertapaan Robi’ah dengan membawa
uang itu. Robi’ah menatap Hasan Basri dan berkata “Dia telah menafkahi
orang-orang yang telah menghujjahnya. Apakah Dia tidak akan menafkahi
orang-orang yang mencintai-Nya. Sejak aku mengenal-Nya, aku berpaling dari
manusia ciptaan-Nya. Aku tidak tahu kekayaan orang itu halal atau tidak, maka
bisakah aku menerima pemberiannya ?. Pernah aku menjahit pakaianku
yang robek dengan diterangi lampu dunia, beberapa saat
aku lengah tidak ingat kepada Alloh karena lampu tersebut, hingga akhirnya aku
sadar, kemudian pakaian itu kurobek kembali pada bagian yang telah aku jahit
itu dan hatiku menjadi lega. Mintalah pada Pemuka itu agar aku tidak lengah
lagi dan kembalikan uang emas itu kepadanya”.
Suatu ketika Abdul Wahid Amir dan
Sofyan Ats Tsauri mengunjungi Robi’ah
ketika sakit. Tetapi karena keduanya merasa segan, mereka tidak berani menegur
atau menyapanya.
“Engkaulah yang berkata” Kata Abdul
Wahid kepada Sofyan. Kemudian Sofyan berkata kepada Robi’ah, “Jika engkau
berdo’a, niscaya penderitaanmu ini akan hilang”.
Robi’ah menjawab, “Tidak tahukah
engkau, siapa yang menghendaki aku menderita seperti ini ? bukankah Alloh ?
“Ya” Jawab Sofyan “Bagaimana mungkin
engkau tidak mengetahui hal ini. Engkau menyuruhku memohonkan hal yang
bertentangan dengan kehendak-Nya ? Bukankah itu tidak baik apabila kita
menentang sahabat kita sendiri ?”
“Apakah yang engkau inginkan, Robi’ah? Sofyan bertanya lagi.
“Sofyan, engkau adalah orang yang
terpelajar, tetapi mengapa engkau bertanya pula, apakah yang aku inginkan ?”
“Demi kebesaran Alloh” Robi’ah berkata tegas, “Telah dua belas tahun aku
menginginkan buah kurma segar. Engkau
tentu tahu bahwa di kota Basrah, buah kurma harganya sangat murah,
tetapi hingga saat ini aku tidak pernah menginginkan sesuatu, sedang Alloh
tidak menginginkan-Nya, maka kafirlah aku. Engkau harus menginginkan sesuatu
yang diinginkan-Nya karena semata-mata agar engkau dapat menjadi hamba-Nya yang
sejati, tetapi lain lagi jika Alloh Subhanahu Wata'ala sendiri
memberikan-Nya”
Sofyan terdiam, kemudian ia berkata
lagi kepada Robi’ah “Karena aku tidak dapat berbicara mengenai dirimu, maka
engkaulah yang berbicara mengenai diriku”
“Engkau adalah orang yang baik,
kecuali dalam satu hal, engkau mencintai dunia, engkaupun suka membacakan
hadits-hadits” Sofyan sangat tergugah hatinya dan berseru “Yaa Alloh!
kasihanilah aku”
Tetapi Robi’ah mencela, “Tidak
malukah engkau mengharapkan Alloh, sedangkan engkau sendiri tidak mengasihi
Alloh?”
Pada suatu ketika Malik bin Dinar
mengunjungi Robi’ah. Dia menyaksikan Robi’ah menggunakan gayung pecah untuk
bersuci dan minum, sebuah tikar dan batu bata yang kadang-kadang dipergunakannya
sebagai bantal. Menyaksikan itu semua hati Malik bin Dinar menjadi sedih.
“Aku mempunyai teman-teman yang kaya”
kata Malik “Jika engkau menghendaki sesuatu, akan aku mintakan kepada mereka.”
“Malik, engkau telah melakukan kesalahan yang
besar” jawab Robi’ah “Bukankah yang menafkahi aku dan menafkahi mereka adalah
satu, yaitu Alloh” “Ya” jawab Malik
“Apakah yang menafkahi orang-orang
miskin itu lupa kepada orang-orang miskin karena kemiskinannya? dan apakah Dia
hanya ingat kepada orang-orang kaya karena kekayaan mereka?” tanya Robi’ah.
“Tidak” jawab Malik
“Jadi” Robi’ah meneruskan, “Karena
Dia Mengetahui keadaanku, bagaimana aku harus mengingat-Nya ?, beginilah yang
dikehendaki-Nya, dan aku menghendaki seperti yang dikehendaki-Nya”
Ketika tiba saatnya Robi’ah harus
meninggalkan dunia ini, orang-orang yang menungguinya meninggalkan kamarnya dan
menutup pintu kamar itu dari luar. Kemudian mereka mendengar dari kamar
Robi’ah, “Wahai jiwa yang tenang dan damai ! kembalilah kepada Tuhanmu dengan
berbahagia”.
Setelah beberapa saat tidak ada lagi
suara yang terdengar, mereka lalu membuka pintu dan mendapatkan Robi’ah telah
meninggal dunia.
Setelah Robi’ah meninggal dunia, ada
seseorang yang mimpi bertemu dengannya, kemudia ia bertanya “Robi’ah, bagaimana
engkau menghadapi Munkar dan Nakir?”
Robi’ah menjawab, “Kedua malaikat itu
datang kepadaku dan bertanya : “Siapakah Tuhanmu?” aku menjawab : Pergilah
kepada Tuhanmu dan katakan kepada-Nya : diantara berjuta-juta makhluk yang ada,
janganlah engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah, aku hanya memiliki
Engkau di dunia yang luas ini, aku tidak pernah lupa kepada-Mu, tetapi mengapa
Engkau mengirim utusan hanya sekedar menanyakan siapa Tuhanmu kepadaku”.
Betapa berat dan murninya kadar
keimanan yang dimiliki oleh Robi’ah Al Adawiyah, setiap langkah dan detak
jantungnya dipergunakan untuk mengabdi dan mengingat kepada Alloh semata.
Semoga iman Billah Robi’ah tertanam pada kita semua Pengamal Wahidiyah, karena
kita yakin bahwa Muallif Sholawat Wahidiyah mampu menanamkan iman Billah kepada
pengikut-pengikutnya yang senantiasa meningkatkan mujahadah-mujahadah dan
selalu menerapkan ajaran LILLAH-BILLAH, LIRROSUL-BIRROSUL, dan LILGHOUTS-BILGOUTS,
serta selalu menghadiri dan melaksanakan apa yang telah digariskan Muallif
Sholawat Wahidiyah.
Semoga kita dikaruniai hati yang
jernih, batin yang tenang dan kokoh. Jiwa yang tenang sehingga berhasil wusul,
sadar ma’rifat kepada Alloh Subhanahu wata 'ala wa Rosulihi Shollallohu
'alaihi Wasallam, suatu kondisi batiniyah yang menjamin keselamatan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup lahir batin dunia dan akhirat yang
mendapat ridho Alloh Subhanahu wata 'ala
Amin.
Al fatihah
Yaa Syaafial Kholqi habiballoohi … 1 x
Yaa Sayyidii Yaa Rosulalloh … 1 x
Alfatihah 1 x

Posting Komentar
0Komentar